Pintar Statistik, Penyuka Bela Diri, Mahir Berpiano

Genius 10 Tahun yang Menguasai Enam Bahasa
Downey – Bocah genius. Julukan tersebut memang tepat dilekatkan pada diri Moshe Kai Cavalin. Di usia yang baru menginjak sepuluh tahun, dia tidak lagi sekadar mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran dasar. Dia telah tercatat sebagai mahasiswa di East Los Angeles College. Itu menjadikannya mahasiswa termuda sejak perguruan tinggi tersebut didirikan 63 tahun silam.


Selintas, sosok bocah genius itu memang tidak berbeda dengan sebayanya. Tinggi badannya pun baru 138 sentimeter. Saat duduk untuk mencatat pelajaran, kakinya tidak sampai menyentuh lantai.

Tingkahnya juga tidak ubahnya anak-anak seusianya. Ketika menerima tamu, misalnya, tidak jarang dia berputar di kursi.

Namun, di balik tingkah polosnya itu, dia mulai menghadapi ujian akhir semester untuk mata pelajaran yang jauh dari yang didapat anak-anak lain sepantarannya. Yakni, matematika tingkat lanjut, bahasa asing, dan musik. “Saya sedang belajar statistik,” kata Moshe malu-malu.

Saat ini, Moshe menempuh program dua tahun perguruan tinggi tadi. Bila bisa mempertahankan nilai dan memenuhi syarat-syarat yang diajukan, Moshe berharap bisa pindah ke sebuah kampus favorit untuk mengambil program empat tahun jurusan astrofisika. Astrofisika merupakan cabang ilmu astronomi yang berkaitan dengan fisika jagat raya.

Siapa sangka, si genius itu, ternyata, pernah merasakan ditolak saat mendaftar sekolah. “Mereka tidak mau menerima saya karena saya dianggap membosankan hanya karena saya tahu lebih banyak dibandingkan para guru,” kenang Moshe.

Moshe yang berdarah campuran itu lahir dari ibu asal Taiwan, Shu Chen Chien. Ayahnya, Yosef Cavalin, keturunan Italia yang dilahirkan di Brazil. Itulah sebabnya, Moshe piawai bercakap dalam enam bahasa. Yakni, Spanyol, Portugis, Italia, Inggris, Yahudi, dan Mandarin. Sang ayah mengakui bahwa aksen putra tunggalnya itu lebih kental Mandarin.

Kelebihan itu juga sempat membuatnya celaka. Tangan kirinya cedera karena mempelajari bela diri. Cedera tersebut membuatnya tidak bisa bermain piano. Padahal, kata sang ayah, Moshe kerap meraih prestasi di bidang itu. “(Ujian) final sudah tiba dan dia (masih) tidak bisa bermain dengan dua tangan. Dia akan mencoba bermain dengan satu tangan,” kata Cavalin.

Cavalin tidak perlu terlalu merisaukan “nasib” nilai anaknya. Bocah genius tersebut mempunyai jalan untuk menutupi “kekurangannya”. Moshe yang sudah kuliah lebih dari setahun silam mempunyai nilai tertinggi, A plus, untuk beberapa mata kuliah. Misalnya, aljabar, sejarah, astronomi, dan olahraga. Dia pun berminat mendalami wormholes, yang merupakan fenomena hipotesis ilmiah yang mempunyai korelasi dengan teori relativitas Albert Einstein.

Yang pertama menyadari kelebihan Moshe tersebut adalah Guajao Liao, yang mengajarkan aljabar untuk tingkat lanjut. Itu terjadi pada 2006. Liao yang juga mengajar murid berusia 19-20 tahun memberi tahu orang tua Moshe.

Mengetahui kelebihan yang dimiliki buah hatinya, alih-alih langsung “mendera” putra mereka dengan berbagai macam pendidikan, pasangan Cavalin sama sekali tidak ingin memaksa Moshe.

Keduanya sebisanya tidak menyebut putra mereka genius. Mereka menyebut bahwa putra mereka hanyalah anak biasa yang sangat menikmati belajar. Mereka juga mengatakan bahwa minat belajar putra mereka sama besarnya seperti minatnya dalam bermain sepak bola juga dalam menonton film-film Jackie Chan. Bisa pula disamakan dengan semangatnya dalam mengoleksi mobil-mobilan, topi baseball lengkap dengan lambing macan di atasnya.

Sifat rendah hati dalam diri pasangan Cavalin itu menurun pada buah hati mereka. Moshe tidak suka membicarakan tingkat inteligensinya. Baginya, siapa pun bisa mencapai sukses seperti yang diraihnya. Asalkan, mereka mau belajar keras dan memusatkan perhatian sepenuhnya pada apa yang mereka kerjakan.

Pasangan itu juga sama sekali tidak pernah berencana mendaftarkan putra mereka ke sekolah tinggi saat usianya baru menginjak delapan tahun. Mereka memperlakukan Moshe layaknya anak-anak lain dan mendaftarkan ke sekolah dasar saat usianya menginjak enam tahun.

Karena itu, orang tuanya memutuskan untuk memberikan pendidikan lewat home-schooling bagi buah hatinya terse but. Hal itu hanya berlangsung dua tahun. Sebab, kemudian mereka menyadari bahwa college adalah tempat yang pas bagi putra mereka. East LA bersedia menerima.

Awalnya, dia hanya diizinkan mengikuti dua kelas saja, yakni matematika dan olahraga. Karena mendapatkan nilai A plus, pihak kampus mengizinkannya menambah mata kuliah lain. “Dialah mahasiswa termuda yang pernah saya ajar sekaligus paling pekerja keras,” kata Daniel Judge, profesor mata kuliah statistik yang mengajar Moshe. (www.jawapos.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: