Cluster boom….

Tunggu Kepedulian Negara Besar
Keganasan bom tandan (cluster bom) kembali menjadi pembahasan. Tidak kurang dari 500 orang mewakili 122 negara berkumpul di Wellington, New Zealand, untuk membahas draf pakta larangan penggunaan bom mengerikan itu.

Kengerian dan keganasan bom tandan lebih terasa pada ancaman jangka panjang. Ketika dijatuhkan dari pesawat terbang, bom tersebut pecah menjadi ratusan bom kecil.

Bom-bom kecil yang mengenai sasaran itu langsung meledak dan menghancurkannya. Yang tidak mengenai sasaran melesak ke dalam tanah dan menjadi ranjau yang bertahan puluhan tahun.

Konferensi yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari tersebut merupakan rangkaian dari inisiatif dunia untuk menerbitkan larangan bom tandan sejak Februari 2007. Ide itu juga telah dikonkretkan dalam konferensi serupa di Dublin, Irlandia, pada Mei lalu.

Sejak itu, lebih dari 83 negara telah menyatakan dukungan, termasuk Indonesia. Sayang, negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, Israel, dan Tiongkok memilih absen pada konferensi tersebut. Padahal, negara-negara itu merupakan produsen dan pengguna aktif bom tandan.

Salah satu poin yang mendasari kesepakatan tersebut adalah cara kerja bom tandan yang terbilang kejam. Sebab, ketika sisa pecahan bom-bom kecil itu tertanam di tanah dan berubah menjadi ranjau, korban akan terus berjatuhan hingga beberapa dekade setelah perang terjadi. Sampai detik ini, tercatat ribuan warga sipil, terutama anak-anak, telah menjadi mangsa ranjau bom tandan tersebut.

Konferensi internasional pun dihelat oleh Koalisi Antibom Tandan (CMC) yang merupakan gabungan dari 200 organisasi internasional. Sejumlah pemimpin negara peraih nobel juga menggabungkan diri dalam CMC untuk menggalang dukungan. “Setelah melewati kemajuan yang sangat signifikan selama setahun terakhir, momen ini datang untuk menyusun lagi kesepakatan baru demi menyelamatkan nyawa jutaan korban sipil,” tegas Thomas Nash, koordinator koalisi tersebut, kepada peserta konferensi.

Senada dengan Nash, Menteri Pertahanan New Zealand Phil Goff mengatakan bahwa fokus kesepakatan itu adalah menyelamatkan rakyat sipil. “Tantangan terbesar pertemuan ini adalah kesuksesan merancang aturan hukum yang disepakati bersama dan menghentikan pembunuhan warga sipil,” tegasnya.

Goff menyatakan bangga atas peningkatan jumlah delegasi. Sebab, konferensi tahun lalu diikuti 46 negara saja.

New Zealand selama ini menjadi garda terdepan dalam upaya merumuskan larangan bom tandan. Pelopor konferensi damai itu, antara lain, Austria, Irlandia, Meksiko, Norwegia, dan Peru.

Ironisnya, sejumlah negara besar justru terkesan menggembosi perjanjian yang telah diteken pada tahun lalu itu. Menurut CMC, Prancis, Jerman, Jepang, dan Inggris kerap melakukan tekanan diplomatis untuk mencari kelonggaran atas draf antibom tandan. Termasuk, meminta agar ditetapkan masa transisi dan penggunaan bom tandan untuk latihan militer bersama dengan negara yang tidak ikut meneken kesepakatan tersebut. “Keseriusan negara-negara itu dalam menyelamatkan nyawa tidak seharusnya digembosi hanya demi alasan klasik produsen dan konsumen senjata,” kritik juru bicara Badan Hak Asasi Manusia (HRW) Steve Goose.

Kritik Goose tersebut seakan membenarkan fakta investigasi CMC. Yaitu, setidaknya terdapat 34 negara yang terus memproduksi amunisi bom tandan dan sekitar 76 negara memiliki saham potensial dalam produksi senjata jenis itu. Dalam konferensi kemarin (18/2), diperkirakan sekitar 41 negara pemilik saham tersebut turut hadir di Wellington.

Prihatin atas isu tersebut, tahun lalu, sekitar 49 negara telah mengadakan konferensi tentang bom tandan di Oslo, Norwegia. Pada pertemuan itu 46 di antara 49 negara yang hadir sepakat mendeklarasikan larangan penggunaan bom tandan.

Target mereka, tidak ada lagi negara yang menggunakan bom tandan pada 2008. waktu itu mereka sepakat, menggunakan bom tandan dalam aksi militer tidak bisa dibenarkan.

Di antara 49 negara yang hadir, tiga negara menolak menandatangani deklarasi yang dicetuskan. Mereka adalah Polandia, Rumania, dan Jepang.

Walaupun kontingen konferensi tahun ini meningkat dua kali lipat dari tahun lalu, namun banyak yang sangsi akan keberhasilan misi pelarangan bom tandan. Sebab, ganjalan yang sama seperti tahun lalu berulang kembali yaitu beberapa negara penghasil senjata, termasuk AS, Rusia, Israel, dan Tiongkok, yang memilih absen dalam konferensi tersebut.

“Menurut kami, bom tandan punya tempat dan kegunaan tersendiri dalam militer. Berdasar teknologi yang tepat, saya yakin, bom jenis itu bisa digunakan dalam aksi militer yang bertanggungjawab,” dalih Jubir Deplu AS Sean McCormack saat menolak hadir dalam konferensi tahun lalu yang tampaknya masih tetap dipertahankan hingga sekarang.(AP/BBC/zul/rum-www.jawapos.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: